Tujuh Tesis tentang Kontrol Pekerja


Tesis yang ditulis dalam konteksautonomia operaia‘ tahun 1970-an di Italia ini bermaksud untuk memulai perdebatan tentang kontrol pekerja atas pabrik sebagai jalan ‘demokratis dan non-kekerasan’ menuju sosialisme.

Tuntutan akan kontrol pekerja atas pabrik-pabrik berada di pusat “jalan demokratis dan non-kekerasan” menuju sosialisme. Tesis berikut ini dimaksudkan untuk memberikan arahan awal dan sementara untuk debat luas yang mengumpulkan tidak hanya kontribusi politisi dan spesialis tetapi juga di atas semua pengalaman gerakan pekerja, yang merupakan satu-satunya verifikasi konklusif dari sintesis – elaborasi berbagai pemikiran sosialis .. baik pada waktu tulisan ini diterbitkan ataupun dimasa depan nanti.

1. Tentang masalah transisi dari kapitalisme ke sosialisme

Di dalam gerakan pekerja telah ada untuk waktu yang lama, dan dalam periode-periode berturut-turut, suatu diskusi tentang masalah mode dan kondisi sementara untuk transisi ke sosialisme. Satu kecenderungan, yang terjadi dalam berbagai bentuk, percaya bahwa mungkin untuk membuat skema sementara proses ini, seolah-olah konstruksi sosialis harus didahului, selalu dan dalam setiap kasus, oleh “fase” konstruksi demokrasi borjuis. Dengan cara ini proletariat, di mana borjuasi belum menyelesaikan revolusinya, akan diberi tugas untuk melakukan perjuangannya dengan tujuan yang ditentukan: bahwa memang harus membangun atau mendukung konstruksi mode produksi dan bentuk-bentuk politik .. dari masyarakat borjuis yang utuh. Konsepsi ini dapat didefinisikan secara skematis karena mengklaim – berlaku secara abstrak dan tanpa mengacu pada realitas sejarah, model prefabrikasi. Jika memang benar bahwa realitas Institusi-institusi politik melakukan penyesuaian, di setiap zaman, dengan realitas ekonomi, adalah keliru untuk mempercayai bahwa realitas ekonomi (kekuatan-kekuatan produktif dan hubungan-hubungan produksi) berkembang menurut suatu garis yang selalu bertahap, teratur, dapat diprediksi dengan sempurna karena dibagi dalam fase berurutan yang tepat, .. yang sebenarnya terjadi adalah satu dari lainnya jelaslah berbeda.

Cukuplah, untuk memahami pola kesalahan ini, tarik mereka kedalam dialektika – merenungkan beberapa contoh sejarah yang terjadi. Ketika, pada awal abad yang lalu, kemajuan teknis .. alat produksi (penemuan alat tenun mekanis dan mesin uap) membawa lompatan kualitatif dalam produksi (revolusi industri) yang tetap berlaku, beriringan dengan bentuk-bentuk produksi lama (tetap) di samping yang baru ; dan di negara-negara yang lebih berkembang secara ekonomi, perjuangan politik memiliki karakter yang agak rumit.*

Di satu sisi ada perlawanan terhadap kelangsungan hidup feodal, di sisi lain ada penegasan dari revolusi yang dipelopori borjuasi industri ; dan akhirnya, pada saat yang sama, munculnya kelas baru, proletariat industri.

Di Rusia, pada akhir gelombang revolusioner pertama (Februari 1917), setelah runtuhnya otokrasi Tsar dan sistem feodal kapitalis yang mengerikan, salah satu bagian dari gerakan pekerja Marxis, jatuh ke dalam kesalahan yang sama, menyatakan bahwa Rusia .. proletariat harus bergabung dengan borjuasi untuk mewujudkan “tahap kedua” (demokrasi borjuis) yang diperlukan dari revolusi. Seperti diketahui, tesis ini dikalahkan oleh Lenin dan mayoritas gerakan buruh Rusia; dalam keruntuhan total sistem lama, satu-satunya protagonis sejati tetaplah proletariat,

..dan oleh karena itu masalahnya bukanlah menciptakan institusi khas borjuasi, tetapi membangun institusi demokrasinya, demokrasi sosialis.

Di Cina antara tahun 1924 dan 1928, ada sebuah kebiasaan di partai komunis .. dari mereka yang secara keliru ingin melakukan gerakan kelas untuk mendukung Kuomintang Chiang Kai-shek tanpa syarat, membantu mewujudkannya, setelah runtuhnya dinasti Manchu dan sistem feodal, tahap kedua (demokrasi borjuis) : mereka tidak memperhitungkan tidak adanya borjuasi Cina yang mampu memantapkan dirinya sebagai kelas “nasional”, atau fakta bahwa massa tani yang sangat besar di negeri ini hanya dapat berjuang untuk penyebab emansipasi mereka sendiri, dan mereka tidak tertarik dengan suatu gagasan yang (baginya) abstrak dan juga tidak dapat dipahami.

Pertimbangan-pertimbangan ini tidak mengarah dengan cara apapun untuk meninggikan voluntarisme revolusioner intelektualis (untuk menegaskan, yaitu, bahwa revolusi dapat menjadi buah dari tindakan kehendak kelompok pelopor), tetapi hanya untuk mengklarifikasi sebagai, pertama-tama, setiap kekuatan politik, daripada mengejar model prefabrikasi, harus menyadari realitasnya sendiri, bidang yang selalu kompleks dan spesifik di mana ia bergerak. Demokrasi sosial dalam segala bentuknyalah yang, untuk menutupi oportunismenya dan membenarkannya secara ideologis, secara sistematis mencampuradukkan kartu-kartu di atas meja dan mereduksi setiap posisi yang konsisten dengan kiri revolusioner menjadi posisi voluntarisme intelektualis.

Esensi historis dari pengalaman sosial-demokratis kurang-lebih terdiri dari :

..dalam memberikan tujuan, dengan dalih perjuangan melawan maksimalisme, kepada proletariat tugas untuk mendukung borjuasi atau bahkan menggantikannya dalam pembangunan demokrasi borjuis: dan dengan fakta itu justru menyangkal tugas dan otonomi revolusioner proletariat, dan mengakhirinya dengan menempatkannya pada posisi kekuatan subaltern – tetap memegang posisi sebagai bawahan (budak).

Dalam masyarakat Italia saat ini, faktor fundamental dibentuk oleh fakta bahwa borjuasi tidak pernah, tidak, tidak akan pernah bisa menjadi kelas “nasional”; suatu kelas yang dengan demikian mampu (seperti yang terjadi di Inggris dan Prancis) menjamin, meskipun dalam jangka waktu tertentu, perkembangan masyarakat nasional, secara keseluruhan. Borjuasi Italia muncul atas dasar korporat dan sebagai parasit, yaitu:

.. melalui pembentukan sektor industri individu yang bukan merupakan pasar nasional, tetapi bertahan pada eksploitasi pasar yang mirip dengan kolonialisme (Selatan). Melalui jalur yang tetap untuk mendapatkan perlindungan dan dukungan aktif dari Negara. Juga dengan aliansi sisa-sisa feodalisme (blok Agraria di Selatan).

Fasisme adalah ekspresi bengis dari keseimbangan kontradiktif ini, dan dominasi, dalam bentuk ini, borjuasi: mereka juga melalui intervensi besar-besaran Negara totaliter demi industri swasta yang bangkrut (IRI) (Istituto per la Ricostruzione Industriale, bailout fasis pada tahun 1933), dipromosikan secara maksimal dengan transformasi sektor industri tertentu menjadi struktur monopoli yang kuat (Fiat, Montecatini, Edison, dll). Setelah runtuhnya fasisme, monopoli menemukan dirinya .. dalam intensifikasi hubungan dengan industri besar Amerika dan dalam subordinasinya, kelanjutan dari kebijakan anti-nasional lama mereka (industri besar Italia selalu, dalam satu atau lain cara, dikartelisasi dengan monopoli internasional yang besar; salah satu kasus di mana hubungan ini muncul dengan bukti besar adalah ketika Fiat, Edison, dan Montecatini mendukung di Italia kampanye untuk kartel minyak internasional; dan secara umum Atlantikisme partai-partai kanan tengah adalah ekspresi hubungan subordinasi yang telah ditunjukkan.

Marshall Plan, ekspresi imperialisme Amerika, diterima oleh monopoli Italia di depan partai-partai politik). Dengan demikian terbentuk situasi di mana di sebelah wilayah monopolistik terdapat daerah-daerah depresi dan keterbelakangan yang luas, (banyak zona di pegunungan dan perbukitan, Po delta dan, lebih umum, Selatan dan juga pulau-pulau); jarak antara strata sosial dan kelas sosial (ceto sociale), antar wilayah, semakin jauh; ketidakseimbangan produksi tradisional dengan industri tumbuh; monopolistik semakin ketat (distorsi dan pembatasan, yang terjadi bahwa kekuatan dan politik monopoli akhirnya menentang perkembangan kekuatan produktif yang secara penuh terbebas dan seimbang); ada pengangguran massal yang menjadi elemen permanen ekonomi kita; istilah tradisional dari masalah terbesar struktur sosial ekonomi kita direproduksi dengan cara yang diperparah.

Namun, akan menjadi kesalahan besar untuk menegaskan kembali keberadaan fakta-fakta ini dan untuk menyembunyikannya, seperti yang telah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir, elemen-elemen baru. Tidak ada keraguan bahwa, terutama mulai tahun 1951-52, di beberapa sektor kapitalisme Italia mampu mengambil keuntungan dari situasi ekonomi internasional yang menguntungkan dan kemajuan ekonomi yang cukup besar: dengan demikian ada fase ekspansi (pertumbuhan produksi yang cepat, pertumbuhan pendapatan, akumulasi kapital yang cepat dan dorongan kuat dalam kapital (modal) tetap) yang bagaimanapun, berlangsung di bawah kendali monopoli, tetap terbatas pada wilayah mereka, dan bahkan memprovokasi kemarahan atas ketidakseimbangan fundamental ekonomi Italia.

Situasi kontradiktif, yang didominasi oleh area depresi yang luas dan krisis yang telah kami gambarkan, tidak akan membaik – tetapi memburuk, apakah karena kemungkinan pembalikan situasi ekonomi internasional, atau kemungkinan pertumbuhan pengangguran karena teknologi, atau efek negatif dari Pasar Bersama, atau akhirnya karena karakteristik pasar internal Italia (kepicikannya, kemiskinannya) tidak menyediakan area yang memadai untuk bergabung dengan kapasitas produktif dan kesiapannya secara teknologi, yang semakin kuat di area monopolistik.

Analisis jenis ini tidak bertujuan dan tidak berfungsi secara alami untuk menilai prospek krisis kapitalisme yang menjadi “bencana”; dan terlebih lagi polemik di dalam medan prediksi, dan dalam istilah ini, hanya akan melumpuhkan dan mensterilkan aksi berbasiskan gerakan kelas. Yang mengikuti dari analisis ini adalah adanya kondisi nyata tertentu dan identifikasi kecenderungan pembangunan yang tersirat di dalamnya; dan kesimpulan bahwa dalam batas-batas kondisi ini dan kecenderungan ini gerakan pekerja – buruh harus bertindak.

Mengingat pertimbangan-pertimbangan ini, maka tesis berikut ini tampak cukup abstrak dan tidaklah menunjukan kenyataan secara utuh (khususnya hari ini di Italia):

a) gerakan kelas harus secara substansial membatasi dirinya untuk memberikan dukungan kepada kelas kapitalis (atau kelompok-kelompok borjuis tertentu) dalam pembangunan sebuah rezim kekuasaan. demokrasi borjuis yang lengkap;

b) gerakan kelas pada dasarnya harus menggantikan dirinya sendiri dengan kelas kapitalis dan memikul dengan haknya sendiri tugas untuk membangun sebuah rezim demokrasi borjuis yang lengkap melalui tangan mereka.

Sebaliknya kontradiksi-kontradiksi yang secara tajam mengoyak-ngoyak masyarakat Italia, beban yang telah diperoleh atas monopoli dan terus-menerus cenderung lebih banyak untuk dipikul, kontradiksi antara perkembangan teknologi dan hubungan produksi kapitalis, kelemahan borjuasi sebagai kelas nasional, memimpin kaum pekerja – buruh. Sebuah gerakan untuk mengambil tugas yang sifatnya berbeda; berjuang pada saat yang sama untuk reformasi dengan kapasitas borjuis dan untuk reformasi dengan tujuan sosialis. Pada tingkat politik ini menandakan bahwa kekuatan utama perkembangan demokrasi di Italia adalah kelas pekerja dan di bawah arahannya dapat diwujudkan satu-satunya sistem aliansi yang efisien, dengan kaum intelektual, dengan kaum tani, dengan kelompok-kelompok produsen borjuis kecil dan menengah .. Sistem aliansi dan kepemimpinan semacam inilah yang sesuai dengan perspektif yang sebenarnya, kontrol tetap ada ditangan kelas pekerja bukan sebaliknya.

2. Jalan demokrasi menuju sosialisme adalah jalan demokrasi pekerja

Ini adalah deduksi palsu, yang muncul dari analisis yang salah tentang situasi Italia, dan dari interpretasi sederhana dari titik balik yang terdaftar dalam tesis yang diproklamirkan pada konferensi ke-20 CPSU, untuk menegaskan bahwa jalan Italia menuju sosialisme, adalah dengan demokratis dan non-kekerasan, bertepatan dengan jalan “parlemen” menuju sosialisme. Penegasan karakter demokratik sosialisme sebenarnya benar, dalam arti menyangkal semua konsepsi lama yang menyatakan bahwa transisi ke sosialisme adalah hanya tindakan voluntarisme revolusioner, dan pekerjaan minoritas yang terisolasi, tanpa dukungan politik dan ekonomi. Kondisi materil yang telah lama tidak berlaku; ia juga menolak konsepsi yang mengaitkan transisi ke sosialisme dengan verifikasi otomatis atas (keharusan) “kehancuran” kapitalisme. Tetapi jalan demokrasi tidak dapat direduksi menjadi jalan yang selalu dan harus dengan cara non-kekerasan, seperti pada saat, di Negara tertentu ketika kondisi sosialisme sudah matang dan kekuatannya telah mencapai mayoritas suara, .. Perlawanan kelas kapitalis dan cara mereka melakukan kekerasan bagaimanapun juga mengarah pada serangan bersenjata, dan perlunya juga perlawanan dengan kekerasan dari kelas proletar.

Namun demikian, di Italia saat ini ada perspektif sosialisme yang demokratis dan non-kekerasan. Tetapi mereka yang mengidentifikasi instrumen eksklusif (atau bahkan hanya satu-satunya yang signifikan atau karakteristik) dari transisi damai ke sosialisme di Parlemen, mengosongkan gagasan tentang jalan demokratis dan non-kekerasan dari substansi nyata apa pun. Dengan cara ini mereka malah menghidupkan kembali mistifikasi borjuis lama yang menghadirkan Negara perwakilan borjuis bukan sebagaimana adanya, sebagai Negara kelas (pekerja), tetapi sebagai Negara (tetap berada) di atas kelas; di mana Parlemen hanyalah tempat untuk ratifikasi dan pendaftaran hubungan-hubungan kekuatan antar kelas, yang berkembang dan ditentukan di luarnya, ekonomi tetap menjadi ruang di mana hubungan-hubungan nyata diproduksi dan merupakan sumber kekuasaan yang nyata.

Di sisi lain, adalah tepat untuk menegaskan bahwa penggunaan lembaga-lembaga parlementer juga merupakan salah satu tugas terpenting yang ditetapkan untuk gerakan kelas, dan bahwa lembaga-lembaga ini sendiri dapat diubah (oleh tekanan yang dilakukan dari bawah – ke atas oleh gerakan pekerja – buruh. melalui lembaga-lembaga barunya) dari kursi perwakilan hanya penyambung tujuan politik, kepemimpinan hanya sebagai formal, tetapi ekspresi hak-hak politik dan ekonomi yang substansial pada saat yang bersamaan tetap dari bawah – ke atas.

3. Proletariat mendidik dirinya sendiri dengan membangun institusinya sendiri

Ketika, secara umum, jalan menuju sosialisme didefinisikan sebagai demokratis, dengan harapan sepenuhnya menjamin prospek transisi non-kekerasan .. damai, konsep berikut ini sesuai dan secara substansi ditegaskan: bahwa ada kesinambungan dalam metode perjuangan politik sebelum, selama, dan setelah lompatan revolusioner, dan oleh karena itu lembaga-lembaga kekuasaan proletar harus membentuk diri mereka sendiri tidak hanya setelah lompatan revolusioner, tetapi juga dalam keseluruhan perjuangan gerakan pekerja – buruh untuk kekuasaan. Lembaga-lembaga ini harus muncul dari bidang ekonomi, di mana ada sumber (kontrol) kekuasaan yang nyata, dan karena itu mewakili manusia tidak hanya sebagai warga negara tetapi juga sebagai produsen: dan hak-hak yang ditentukan dalam lembaga-lembaga ini harus merupakan hak politik dan ekonomi pada saat yang sama.

Kekuatan nyata dari gerakan kelas mengukur dirinya sendiri dari bagian kekuasaan dan kapasitas untuk menjalankan fungsi utama dalam struktur produksi. Jarak yang memisahkan lembaga-lembaga demokrasi borjuis dari lembaga-lembaga demokrasi pekerja secara kualitatif sama dengan jarak yang memisahkan masyarakat borjuis yang terbagi dalam kelas-kelas dari masyarakat sosialis tanpa kelas. Ini juga untuk menangkis konsepsi, tentang asal-usul Pencerahan yang selalu naif, yang ingin secara umum “melatih” proletariat untuk berkuasa, dengan mengabaikan konstruksi konkrit dari institusi-institusinya. Demikianlah kita mendengar tentang “persiapan subjektif” proletariat, tentang “pendidikan” proletariat (dan giliran siapa yang memainkan peran pendidik?); tetapi semua orang tahu bahwa hanya mereka yang melompat ke dalam air dan mau belajar berenang (dan untuk alasan ini, antara lain, yang terbaik adalah memulai dengan melemparkan “pendidik” yang Tercerahkan ke dalam air – ikut terlibat).

Tentu hal-hal ini bukanlah hal baru. Mereka adalah berasal dari pengalaman sejarah gerakan pekerja – buruh dan Marxisme, dari Soviet tahun 1917 ke gerakan dewan pabrik di Turin, ke dewan pekerja – buruh Polandia dan Yugoslavia, hingga diskusi yang diperlukan tentang tesis Kongres ke-20, yaitu akan mengambil daging di depan mata kita. Hal ini semua lebih berlebihan lagi untuk harus ingat bahwa itu persis pada masalah ini, pada tahun-tahun terakhir, Partai Sosialis telah memberikan kontribusi paling orisinal kepada seluruh gerakan pekerja Italia.

4. Tentang kondisi kontrol pekerja saat ini.

Dewasa ini, tuntutan akan kontrol pekerja (buruh dan teknisi) tidak diletakkan hanya dalam kaitannya dengan alasan-alasan yang baru saja dijelaskan, tetapi dihubungkan dengan serangkaian kondisi baru yang membuat tuntutan ini sangat kontemporer dan menempatkannya di pusat kehidupan. Perjuangan gerakan kelas:

    • Yang pertama dari kondisi ini didasari oleh perkembangan pabrik modern. Di medan ini muncul praktik dan ideologi monopoli kontemporer (hubungan manusia, organisasi ilmiah tenaga kerja, dll.), yang bertujuan untuk mensubordinasikan jiwa dan tubuh secara integral – pekerja kepada bosnya, menguranginya kesadarannya kedalam roda gigi kecil. Di roda gigi mesin besar yang kompleks permasalahannya tetap tidak diketahui olehnya – pekerja. Satu-satunya cara untuk mematahkan proses penundukan total dari pribadi si pekerja ini adalah, selain dari si pekerja itu sendiri, dengan pertama-tama menjadi sadar akan situasi seperti mulai membongkar istilah-istilah bisnis yang terlihat produktif; dan menentang “demokrasi bisnis” yang segalanya hanya mencantumkan nama para bos (didalam merk – info produk), dan mistifikasi “hubungan manusia”, memulai tuntutan peran untuk menuju kesadaran bagi pekerja – buruh dalam kekuatan bisnis: tuntutan ke demokrasi pekerja;
    • Jika organ-organ kekuasaan politik di Negara borjuis selalu tetap menjadi “komite eksekutif” kelas kapitalis, hari ini kita tetap mengamati interpenetrasi yang lebih besar daripada di masa lalu antara Negara dan monopoli: apakah karena monopoli, menurut logika internalnya, dituntun untuk mengambil kendali langsung yang selalu lebih besar, atau karena operasi ekonomi dari monopoli (dan dalam hal ini ilusi laissez-faire sekarang mulai runtuh) menuntut dengan cara yang meningkatkan bantuan dan intervensi bersahabat dari Negara. Justru karena, kemudian, otoritas ekonomi memperluas fungsi politik langsung mereka (dan di balik kehancuran Rule of law meningkatkan fungsi nyata dan langsung dari Negara kelas), gerakan pekerja – buruh sedang mempelajari pelajaran dari musuhnya, harus selalu terus bergerak maupun menggeser lebih jauh pusat perjuangannya ke medan kekuasaan yang nyata dan ditentukan. Dan, untuk alasan yang sama,

.. perjuangan gerakan kelas untuk kontrol tidak dapat menguras dirinya sendiri dalam batas-batas satu perusahaan, tetapi harus dihubungkan dan diperluas di semua sektor, di semua bidang produktif. Untuk memahami kontrol pekerja sebagai sesuatu yang dapat dibatasi pada satu perusahaan tidak hanya berarti “membatasi” permintaan kontrol, tetapi mengosongkan makna sebenarnya, dan menyebabkannya runtuh di tingkat perusahaan;

    • Akhirnya ada kondisi baru terakhir yang menjadi akar tuntutan kontrol pekerja. Perkembangan kapitalisme modern, di satu sisi, dan di sisi lain, perkembangan kekuatan-kekuatan sosialis di dunia dan problematika kekuasaan yang sulit, yang memaksakan dirinya secara paksa di negara-negara di mana gerakan kelas telah membuat revolusinya, menunjukkan pentingnya hari ini membela dan menjamin otonomi revolusioner proletariat, baik melawan bentuk-bentuk baru reformisme, atau melawan birokratisasi kekuasaan, yaitu melawan birokratisasi reformis dan melawan konsepsi “pemimpin” (pemimpin-partai) .. Pemimpin negara).

Pembelaan, dalam situasi ini, otonomi revolusioner proletariat, memanifestasikan dirinya dalam penciptaan dari bawah – ke atas, sebelum dan sesudah penaklukan kekuasaan, lembaga-lembaga demokrasi sosialis, dan dalam kembalinya partai ke fungsinya sebagai instrumen pembentukan politik gerakan kelas (sebagai strategi – alat, yaitu, bukan statis dari pemimpin paternalistik, dari atas, tetapi untuk mendorong dan mendukung organisasi-organisasi di mana persatuan kelas diartikulasikan). Pentingnya sekarang otonomi Partai Sosialis di Italia justru dalam hal ini: tentu saja bukan dalam seberapa jauh ia memajukan atau memprediksi perpecahan gerakan kelas, bukan dalam menentang satu “pemimpin” dengan “pemimpin” lain, tetapi dalam jaminan otonomi seluruh gerakan pekerja dari segala intervensi eksternal, birokratis, dan paternalistik.

Menegaskan hal ini secara pasti tidak berarti bahwa masalah kekuasaan, syarat esensial bagi konstruksi sosialisme, telah dilupakan: tetapi sifat sosialis perihal kekuasaan secara tepat ditentukan oleh basis demokrasi pekerja yang menjadi sandarannya, dan itu tidak dapat diimprovisasi setelah “lompatan” revolusioner dalam hubungan produksi. Ini adalah satu-satunya metode yang serius, bukan reformis, untuk menentang gagasan sosialisme birokratis (Stalinisme).

5. Arti persatuan kelas adalah pertanyaan tentang hubungan antara perjuangan parsial dan tujuan umum.

Tuntutan akan kontrol pekerja, masalah yang ditimbulkannya, persiapan teoretis yang terkait dengannya, tentu saja menyiratkan persatuan massa, dan penolakan setiap konsepsi partai yang kaku yang mereduksi tesis kontrol menjadi parodi yang menyedihkan.

Tidak ada kontrol pekerja tanpa kesatuan tindakan dari semua pekerja di perusahaan yang sama, di sektor yang sama, di seluruh front produktif: suatu kesatuan yang bukan mitologis atau murni hiasan propaganda sebuah partai, tetapi kenyataan bahwa diimplementasikan dari bawah – ke atas, dengan para pekerja menjadi sadar akan fungsinya dalam proses produktif, dan secara simultan menciptakan lembaga-lembaga kesatuan dari sebuah kekuatan baru!. Karena itu menolak, dalam konteks ini, mereduksi perjuangan pekerja – buruh menjadi instrumen murni penguatan partai atau strategi klandestinnya yang kurang lebih sama.

Pertanyaan, yang telah lama diperdebatkan, tentang bagaimana menghubungkan dan menyelaraskan tuntutan dan perjuangan parsial, segera, dengan tujuan umum, diselesaikan secara tepat dengan menegaskan kesinambungan perjuangan dan sifatnya. Sebenarnya hubungan ini dan harmonisasi secara bersamaan ini bisa dikatakan tidaklah mungkin, dan merupakan kekacauan ideologis, selama masih ada gagasan bahwa ada ranah sosialisme (secara keseluruhan), misteri yang untuk sementara waktu tidak dapat diketahui, yang suatu hari akan muncul sebagai fajar ajaib untuk dicapai – dan dipecahkan. Mimpi-mimpi manusia, cita-cita sosialisme memang merupakan cita-cita yang sangat kontras dan seperti tanpa kemungkinan untuk diakomodasi dengan masyarakat kapitalis,

tetapi itu adalah cita-cita yang perlu dihidupkan hari demi hari, dimenangkan dari waktu ke waktu dalam perjuangan; yang muncul dan berkembang sejauh setiap perjuangan yang berfungsi untuk mematangkan dan memajukan lembaga-lembaga .. organisasi yang muncul dari bawah – ke atas, yang sifatnya sudah merupakan penegasan dari sosialisme.

6. Gerakan kelas dan pembangunan ekonomi

Sebuah konsepsi yang didasarkan pada kontrol pekerja dan pada persatuan dalam perjuangan massa disertai dengan penolakan total terhadap setiap sikap atau orientasi yang bergantung pada perspektif akan hadirnya bencana (keruntuhan kapitalisme secara otomatis – menggali lubang kuburnya sendiri), dan kepatuhan penuh dan tanpa syarat pada sebuah politik totaliter atas pembangunan ekonomi .. yang mengesampingkan aspek ekologis. Tetapi politik pembangunan ekonomi ini bukanlah suatu penyesuaian, suatu koreksi dari jalan ekonomi kapitalis, juga tidak terdiri dari suatu perencanaan abstrak yang akan diusulkan kepada negara borjuis;

itu diwujudkan dalam perjuangan massa, dan memanifestasikan dirinya dengan secara bertahap menghancurkan struktur kapitalis, dan dari sini mengambil dorongan imajinasi kreatif yang baru.

Ketika dalam pengertian ini ditegaskan bahwa perjuangan proletariat berfungsi untuk mendapatkan bagian kekuasaan baru dari hari ke hari, kita tidak boleh memahami ini berarti bahwa proletariat memperoleh bagian dari kekuatan borjuis hari demi hari (atau kolaborasi – bekerjasama dengan kekuatan borjuis) tetapi hari demi hari ia menentang tuntutan, penegasan, dan bentuk kekuasaan borjuis terhadap kekuatan borjuis, yang datang secara langsung, dari bawah – ke atas.

Kelas pekerja, perlahan-lahan, melalui perjuangan untuk kontrol, menjadi subjek aktif dari politik ekonomi baru, mengambil sendiri tanggung jawab untuk pembangunan ekonomi yang seimbang, sehingga mengganggu kekuatan monopoli dan konsekuensinya: ketidakseimbangan antara wilayah dan negara. Antara strata dan sosial, antara sektor dan bidang lainnya. Untuk alasan ini, dengan cara yang sama, menjungkirbalikkan fungsi perusahaan publik kontemporer, mengubahnya dari elemen pendukung dan perlindungan monopoli, menjadi instrumen langsung industrialisasi Selatan dan daerah-daerah tertekan lainnya. Dalam praktiknya, hal ini membuat politik pembangunan ekonomi menjadi elemen yang sangat kontras dengan monopoli;

kontras yang muncul pertama dan terutama sebagai konflik antara sektor publik (bersekutu dengan usaha kecil dan menengah) dan sektor perusahaan swasta besar. Juga harus ditekankan bahwa gerakan kelas, yang meneruskan keseimbangan dan proses industrialisasi yang memadai tidak “menggantikan” dirinya dengan (watak) kapitalisme, juga tidak “menyelesaikan pekerjaan (kapitalis)”, tetapi menggabungkan pembangunan ekonomi dengan transformasi paralel dari hubungan-hubungan produksi.;

karena, hari ini di Italia, hubungan produksi kapitalis yang lama ini justru merupakan hambatan yang tidak dapat didamaikan bagi politik pembangunan ekonomi. Siapa pun yang mengacaukan industrialisasi (pertumbuhan akumulasi) dengan ekspansi kapitalisme (ekonomi keuntungan), tidak hanya melakukan kesalahan teoritis tetapi juga bahkan tidak berhasil mencatat realitas Italia dalam istilah yang paling jelas.

Politik pembangunan ekonomi mempercayakan sepenuhnya kepada kontrol pekerja jaminan pembangunan teknis;

tidak hanya menghilangkan pemisahan praktis (secara politik bahasa) antara pekerja – buruh dan teknisi, tetapi menjadikan seluruh kelas pekerja sebagai pembawa dan pendukung mereka yang paling berdekatan secara langsung, yang pada akhirnya mewujudkan konvergensi, pada tingkat perjuangan, antara pekerja – buruh dan teknisi.

7. Bentuk-bentuk kontrol pekerja

Tuntutan akan kendali di pihak buruh pada dasarnya bersifat kesatuan, dan ia muncul dan berkembang pada tingkat perjuangan. Dalam situasi kongkrit perjuangan kelas di negeri kita, kontrol tidak muncul sebagai tuntutan generik, programatik, apalagi tuntutan formulasi legislatif dari pihak Parlemen:

persiapan dan formula semacam ini hanya dapat mendistorsi masalah kontrol. , bahkan mereduksinya menjadi formula terselubung atau terbuka untuk kolaborasiisme, atau membawanya kembali ke kerangka paternalisme parlementer yang berbahaya. Dengan ini kami tentu tidak bermaksud bahwa ini adalah masalah mengecualikan formulasi legislatif tentang kontrol pekerja, tetapi ini tidak dapat diberikan secara paternalistik dari atas, juga tidak dapat dicapai hanya dengan perjuangan umum dari jenis parlementer;

.. dalam bidang ini Parlemen hanya dapat terlibat, mencerminkan hasil perjuangan yang terjadi di bidang ekonomi (artinya pada dasarnya terlibat sebagai kelas pekerja). Masalah kontrol berkembang sejauh para pekerja, dalam struktur produktif, secara kesatuan menjadi sadar akan kebutuhan mereka dalam sistem produktif, dan realitas produktif, dan berjuang sendiri .. atas kesadaran penuh.

Lebih jauh lagi, jelas, dengan hal-hal yang telah dikatakan, bahwa tidak ada perbedaan untuk poin ini antara perusahaan negara dan perusahaan swasta: permintaan untuk kontrol muncul di kedua sektor pada tingkat perjuangan yang sama. Di sisi lain, permintaan untuk kontrol bukanlah penggalian romantis dari masa lalu yang tidak pernah berulang dalam bentuk yang sama, juga tidak dapat dikacaukan dengan fungsi revindikatif dari organ serikat yang ditentukan (dan karena itu tidak dapat dikacaukan dengan perluasan kekuasaan – komisi internal):

dan hal terakhir ini juga berlaku untuk para pekerja, di banyak tempat, memberikan bentuk ini kepada tuntutan untuk kontrol karena komisi internal tetap menjadi simbol persatuan pekerja yang nyata di tempat-tempat kerja.

Oleh karena itu setiap antisipasi utopis harus dilarang, sementara harus ditegaskan bahwa bentuk-bentuk kontrol tidak boleh ditentukan oleh sebuah komite “spesialis”, tetapi bangkit hanya dari pengalaman konkret kaum buruh. Dalam pengertian ini harus disebutkan tiga hal yang berasal dari sektor pekerja tertentu.

Yang pertama menyangkut Konferensi produksi (Conferenze di produzione) sebagai bentuk konkrit yang darinya ia dapat meluncurkan strategi gerakan untuk metode kontrol. Yang kedua mengacu di sisi lain pada tuntutan bahwa masalah kontrol ditempatkan di pusat perjuangan umum untuk merebut kembali kontrak kekuasaan dan kebebasan pekerja di pabrik-pabrik, dan dengan demikian misalnya, hal itu diwujudkan dalam pemilihan umum – konsensus. Komisi yang akan mengontrol ketenagakerjaan dan mencegah diskriminasi. Ketiga, sementara menekankan kebutuhan menghubungkan antara berbagai perusahaan, menimbulkan masalah partisipasi dalam teritorial demokrasi perwakilan (delegasi) untuk elaborasi program produktif.

Ini adalah poin-poin yang sangat berguna, yang sudah dihasilkan dari pengalaman dasar, yang tentunya akan ditambahkan yang lain: masing-masing akan dibahas lebih jauh dan lebih dalam, mengingat ruang lingkup aplikasi dan studi .. terutama adalah pabrik, dan ujian terbaik atas semua ini adalah persatuan atas perjuangan, tujuan kelas!.


Ditulis oleh – Lucio Libertini dan Raniero Panzieri | Didistribusikan oleh – ABC+ Kontrol Pekerja .. Blog pendistribusian literatur tentang Ekonomi Alternatif dari Kapitalisme dan Komunisme totalitarian yang di organize Asosiasi Koperasi Pekerja Agitasi+

Creative Commons License
Except where otherwise noted, the content on this site is licensed under a Creative Commons CC0 Universal Public Domain Dedication License.
Anti copy-right. Silahkan baca, sebar, dan praktikan.